Iklan

Monday, May 23

Peserta Didik


BAB   I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu sistem untuk merubah karakter seseorang menjadi lebih baik. Peserta didik dalam hal ini bisa sebagai sabjek maupun objek dan sabjek. Peserta didik sebagai objek karena menempati peranan yang sangat vital untuk selanjutnya dikembangkanpotensi yang ada dalam dirinya begitu juga sebagai sabjek karena dalam proses pembelajaran peserta didik mempunyai asumsi sendiri untuk menentukan bagaimana dia harus belajar.
Dalam proses pembelajaran banyak faktor-faktor yang harus diperhatikan demi kesuksesan suatu pendidikan. Salah satu faktor adalah dalam diri peserta didik, karena sejak lahir manusia sudah dibekali otak yang bekerja secara sistematis dan bawaan lahiriyah yang mendorong tingkah laku. Maka metode yang diterapkan oleh pendidik harus sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dalam hal ini perlu kiranya diketahui lebih jauh mengenai peserta didik.
Untuk ini dalam makalah ini penulis mencoba untuk mengulas hal-hal yang berkaitan dengan peserta didik, faktor-faktor yang mendukungnya dan psikologi yang ada dalam diri peserta didik. Hal inilah yang jarang diperhatikan oleh pendidik dalam melaksanakan pembelajaran. Seringkali metode yang dipakai tidak sesuai dengan karakteristik peserta didik sehingga menimbulkan ketidaksinambungan pembelajaran.
B.      Rumusan Masalah
1.       Apa pengertian Peserta Didik?
2.       Bagaimana psikologi Peserta Didik?
3.       Bagaimana etika Peserta Didik?
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Peserta Didik
Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.[1]
Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.[2]

B.      Psikologi Peserta Didik
1.       Kebutuhan Peserta Didik
a.       Kebutuhan Fisik[3]
Fisik mengalami perkembangan yang cepat terutama masa pubertas. Kebutuhan biologis yaitu berupa makan minum dan istriahat. Fisik adalah awal dari kemampuan peserta didik untuk menunjang pembelajaran untuk itu makanan yang dikonsumsi harus bergizi dan sehat.

b.       Kebutuhan Sosial[4]
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang berhubngan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima teman-temannya secara wajar.
c.        Kebutuhan untuk mendapatkan status[5]
Peserta didik terutama pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan diri sendirisangat penting dalam mencari identitias diri dan kemandirian.
d.       Kebutuhan Mandiri[6]
Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri.
e.        Kebutuhan untuk berprestasi[7]
Kebutuhan untuk berprestasi erat kaitannya dengan  kebutuhan mendapatkan status dan mandiri Karena prestasi terbentuk karena terpenuhinya kebutuhan mendapatkan status dan mandiri.
f.        Kebutuhan ingin disayang dan dicintai[8]
Rasa ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap dan mental pesrta didik.
g.        Kebutuhan untuk curhat[9]
Kebutuhan untuk dipahami ide-ide dan permasalahn yang dihadapinya.
h.       Kebutuhan untuk memiliki filsafah hidup[10]
Pada usia remaja mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan nilai-nilai ideal.
2.       Intelegensi Peserta Didik
a.       Kecerdasan Intelektual (IQ)
Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.[11]
Cirri-ciri kecerdasan intelektual:
b.       Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunya ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling. Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel”[12]
c.        Kecerdasan Spiritual (SQ)
Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. Melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan seperti The Binding Problem karya Wolf Singer. Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?[13]
3.       Tipe Kepribadian Peserta Didik dan Pengaruhnya
Begitu banyak tipe kepribadian menurut para ilmuwan. Berikut ini adalah tipe-tpe kepibadian menurut masing-masing para ahli agar kita lebih memahami kepribadian peserta didik sehingga saat proses kegiatan belajar dan mengajar berlangsung dengan maksimal.[14]
 Menurut Eysenck 1964 (dalam Buchori 1982) menyatakan Tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:[15]
1.       Kepribadian Ekstrovert: dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.
2.       Kepribadian Introvert: dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.
3.       Neurosis: dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.
  Menurut Mahmud 1990 (dalam Suadianto 2009) menyatakan Kepribadian terbagi menjadi dua belas kepribadian, yang meliputi kepribadian sebagai berikut:[16]
1.       Mudah menyesuaikan diri, baik hati, ramah, hangat VS dingin.
2.       Bebas, cerdas, dapat dipercaya VS bodoh, tidak sungguh-sungguh, tidak kreatif.
3.       Emosi stabil, realistis, gigih VS emosi mudah berubah, suka menghindar (evasive), neurotik.
4.       Dominat, menonjolkan diri VS suka mengalah, menyerah.
5.       Riang, tenang, mudah bergaul, banyak bicara VS mudah berkobar, tertekan, menyendiri, sedih.
6.       Sensitif, simpatik, lembut hati VS keras hati, kaku, tidak emosional.
7.       Berbudaya, estetik VS kasar, tidak berbudaya.
8.       Berhati-hati, tahan menderita, bertanggung jawab VS emosional, tergantung, impulsif, tidak bertanggung jawab.
9.       Petualang, bebas, baik hati VS hati-hati, pendiam, menarik diri.
10.    Penuh energi, tekun, cepat, bersemangat VS pelamun, lamban, malas, mudah lelah.
11.    Tenang, toleran VS tidak tenang, mudah tersinggung.
12.    Ramah, dapat dipercaya VS curiga, bermusuhan.
 Menurut Hippocrates dan Galenus (dalam Kurnia 2007) Tipologi kepribadian yang tertuang bersifat jasmaniah atau fisik. Mereka mengembangkan tipologi kepribadian berdasarkan cairan tubuh yang menentukan temperamen seseorang. Tepe kepribadian itu antara lain:[17]
1.       Tipe kepribadian choleric (empedu kuning), yang dicirikan dengan pemilikan temperamen cepat marah, mudah tersinggung, dan tidak sabar.
2.       Tipe melancholic (empedu hitam), yang berkaitan dengan pemilikan temperamen pemurung, pesimis, mudah sedih dan mudah putus asa.
3.       Tpe phlegmatic (lendir), yang bertemperamen yang serba lamban, pasif, malas, dan kadang apatis/ masa bodoh.
4.       Tipe sanguinis (darah), yang memiliki temperamen dan sifat periang, aktif, dinamis, dan cekatan.
 Menurut Kretchmer dan Sheldon (dalam Kurnia 2007) menyatakan bahwa Tipologi kepribadian berdasarkan bentuk tubuh atau bersifat jasmaniah. Macam-macaam kepribadian ini adalah:[18]
1.       Tipe asthenicus atau ectomorpic pada orang-orang yang bertubuh tinggi kurus memiliki sifat dan kemampuan berpikir abstrak dan kritis, tetapi suka melamun dan sensitif.
2.       Tipe pycknicus atau mesomorphic pada orang yang betubuh gemuk pendek, memiliki sifat periang, suka humor, popular dan mempunyai hubungan sosial luas, banyak teman, dan suka makan.
3.       Tipe athleticus atau mesomorphic pada orang yang bertubuh sedang/ atletis memiliki sifat senang pada pekerjaan yang membutukhkan kekuatan fisik, pemberani, agresif, dan mudah menyesuaikan diri.
Namun demikian, dalam kenyataannya lebih banyak manusia dengan tipe campuran (dysplastic).  Menurut Kurnia (2007) menjelaskan bahwa  Karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak samapai masa puber.[19]
      Krakteristik perkembangan masa anak awal (2-6 tahun)
Masa anak awal berlangsung dari usia 2-6 tahun, yaitu setelah anak meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di SD. Tekanan dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan sekolah menyebabkan perubahan perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang dalam proses penegmbangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan. Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering membantah dan melawan orang tua. Hal ini memang sangat menyulitkan para pendidik. Tak heran, apabila para guru Playgroup sampai SD harus lebih bersabar dalam melangsungkan pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib. Dan sikap para pedidik sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak.
      Krakteristik perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun)
Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama halnya dengan ciri-ciri periode masa anak awal dengan memperhatikan sebutan atau label yang digunakan pendidik. Orang tua atau pendidik menyebut masa anak akhir sebagai masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya. Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak.
      Krakteristik perkembangan masa puber (11/12 – 14/15 tahun)
Masa puber adalah suatu periode tumpang tindih antara masa anak akhir dan masa remaja awal. Periode ini terbagi atas tiga tahap, yaitu tahap: prapuber, puber, dan pascapuber. Tahap prapuber bertumpang tindih dengan dua tahun terakhir masa anak akhir. Tahap puber terjadi pada batas antara periode anak dan remaja, di mana ciri kematangan seksual emakin jelas (haid dan mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih dengan dua tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4 tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat dan mencolok dalam proporsi tubuh, sehingga menimbulkan keraguan dan perasaan tidak aman pada anak puber. Peubahan fisik dan sikap puber ini berakibat pula pada menurunnya prestasi belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep diri, serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya. Orang dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku anak puber yang kadang menaik diri, emosional, perilaku negative dan lai-lain, serta membantunya agar anak dapat menerima peran seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau masyarakat di sekitarnya.
Berdasarkan tipe-tipe kepribadian yang telah tercantum di atas bahwa setiap sifat yang baik pasti ada sifat yang jelek. Ada peserta didik yang diajak berbicaraselalu merespon, ada peserta didik yang periang, ada sifat atau pribadi yang tertutup, ada peserta didik yang kurang menghargai pendidikya dan mengaggap suatu hal biasa. Kita sebagai pedidik, kita harus mengendalikan ego dan menambah kesabaran saat berinteraksi dengan peserta didik untuk mengingatkan bahwa hal tersebut salah, benar, sopan dan lain-lain. Misalnya, anak yang suka bergurau dan menganggap guru adalah teman, saat pendidik melakukan kesalahan dan peserta didik mengejek dengan kata kurang sopan. Apabila kita langsung memarahi dan tidak bisa menahan emosi kita, maka kita akan ditakuti oleh dia dan bisa saja peserta didik tersebut dan yang lain langsung merasa tegang dan akhirnya pada saat peajaran, bukan suasana yng menyenangkan  yang didapat melainkan suasana tegang. Kita sebagai pendidik harus melihat kepribadian siswa tersebut apakah mudah tersingung atau tidak. Bila murid tersebut tidak muah tersinggung, kita bisa mengingatkan kesalahannya dengan cara lelucon. Namun bila dia mudah tersinggung maka kita bisa menegur saat di luar jam pelajaran. Bila suasana yang tercipta adalah tegang maka materi yang diberikan tidak diserap hingga maksimal dan akhirnya prestasi menurun.[20]
C.      Etika Peserta Didik
Etika  yang harus diperhatikan dalam belajar Dalam hal ini Hasyim Asy’ari mengungkapkan ada sepuluh etika yang harus dipebuhi oleh peserta didik atau murid, yaitu :[21]
  1. Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian
  2. Membersihkan niat
  3. Tidak menunda-nunda kesempatan belajar
  4. Bersabar dan qonaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan
  5. Pandai mengatur waktu
  6. Menyederhanakan makan dan minum
  7. Bersikap hati-hati atau wara’
  8. Menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan kemalasan yang pada akhirnya menimbulkan kebodohan
  9. Menyediakan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan
10.  Meninggalkan kurang faedah (hal-hal yang kurang berguna bagi perkembangan diri).



[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), 77
[2] Ibid.
[3] Ibid, 78
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[12] Ibid.
[13]  Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17]Ibid.
[18] Ibid.
[19] Ibid.
[20] Ibid.
[21] Samsul Rizal, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 157

No comments: