Iklan

Tuesday, December 25

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian



PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku, dengan pengertian bahwa tingkah laku atau aktivitas-aktivitas itu merupakan manifestasi kehidupan psikis. Tingkah laku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu atau organisme itu. Tingkah laku atau aktivitas itu merupakan jawaban atau respon terhadap stimulus yang mengenainya.[1]

Berbagai penelitian awal mengenai struktur kepribadian berkisar di seputar upaya untuk mengidentifikasikan dan menamai karakteristik permanen yang menjelaskan perilaku individu seseorang. Karakteristik yang umumnya melekat dalam diri seorang individu adalah malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia, dan takut. Karakteristik-karakteristik tersebut jika ditunjukkan dalam berbagai situasi, disebut sifat-sifat kepribadian. Sifat kepribadian menjadi suatu hal yang mendapat perhatian cukup besar karena para peneliti telah lama meyakini bahwa sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses seleksi karyawan, menyesuaikan bidang pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan pengembangan karier.[2]

Seorang antropolog an seorang pesikolog, Cylde Kluchohn dan Henry Murray (1954), pernah menyatakan bahwa setiap orang dalam segi tertentu adalah (a) seperti semua orang lain, (b) seperti sejumlah orang lain, (c) seperti tak seorang lain pun (Supratiknya, 1993). Dari ketiga kondisi tersebut, yang terakhirlah terutama yang telah meransang usaha mengembangkan teori-teori kepribadian di bidang psikologi.[3]

Dalam mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tidak akan lepas dari teori-teori. Ada banyak teori yang diperkenalkan diantaranya teori kepribadian psikoanalisis, teori sifat dan yang lainnya. Untuk itu penulis memberikan rumusan masalah sebagai berikut.


B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaiman Formulasi Tingka laku?

2.      Bagaimana Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian menurut berbagai teori?




PEMBAHASAN


A.     Formulasi Tingkah Laku

Sebagaimana diketahui bahwa tingkah laku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya. Tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsangan yang mengenai individu atau organisme itu. Tingkah laku atau aktivitas itu merupakan jawaban atau respon terhadap stimulus yang mengenainya. Karena itu kadaan ini dapat diformulasikan sebagai R = f (S, O), dengan pengertian bahwa R adalah respons; f = fungsi; S = stimulus; dan O = organisme. Formulasi ini berarti bahwa respons merupakan fungsi atau bergantung pada stimulus dan organisme (Woodworth dan Schlosberg, 1971). Namun selanjutnya dikemukakan oleh Woodworth dan Schlosberg bahwa apa yang ada dalam diri organisme itu yang berperan memberikan respons adalah apa yang telah ada pada diri organisme, atau apa yang telah pernah dipelajari oleh organisme yang bersangkutan. Degan kata lain yaitu apa yang telah ada terdahulu dalam diri bersangkutan, yaitu anteseden atau di singkat dengan A. karena itu formulasi yang semula berbentuk R = f (S, O) disempurnakan atau diubah menjadi R = f (S, A) (Woodworth dan Schlosberg, 1971).[4]

Namun demikian formulasi tesebut bukanlah satu-satunya formulasi mengenai tingkah laku atau respons organisme terhadap stimulus yang mengenainya. Formulasi lain mengenai tingkah laku didapati formulasi yang berbentuk B = f (E, O), dengan pengertian bahwa B = behavior atau tingkah laku; f = fungsi; E = Environment atau lingkungan; dan O = Organisme. Pada dasarnya formulasi ini tidak berbeda dengan formulasi di atas yaitu bahwa tingkah laku itu tergantung dari linkungan dan organisme itu sendiri. Namun hubungan antara E dan O belum nampak begitu jelas. Karena itu untuk lebih memperjelas hubungan antara E dan O, maka formulasi lain muncul yaitu formulasi yang berbentuk B = f (E  O), yaitu bahwa tingkah laku itu bergantung atau fungsi dari lingkungan interaksi organisme. Yang dimaksud dengan interaksi di sini ialah saling berhubungan antara lingkungan dan organisasi. Namun menurut Bandura bahwa antara tingkah laku, lingkungan dan organisme atau person itu sebenarnya satu dengan yang lain saling pengaruh mempengaruhi. Karena itu Bandura mengajukan formulasi yang lain lagi yaitu berbentuk:

 



Formulasi ini memberikan pengertian bahwa tingkah laku (B), lingkungan (E) da Organisme person atau (P) saling berpengaruh satu dengan yang lain seperti yang dikemukakan diatas. Tingkah laku akan berpegaruh pada lingkungan dan tingkah laku; demikian pula lingkungan akan berpengaruh pada tingkah laku dan personal organisme.[5]

Dari uraian diatas yang menunjukkan adanya berabagai macam formulasi mengenai tingkah laku, namun dapatlah dikemukakan bahwa dalam tingkah laku organisme itu tidak dapat lepas dari pengaruh lingkungan dan organisme itu sendiri.[6]

Dalam Al-Quran terdapat penjelasan yang menginpirasikan bahwa semua yang ada di dunia ini saling berpengaruh satu dengan yang lain seperti penjelasan tentang kerusakan alam akibat perbuatan manusia itu sendiri. Juga lingkungan ini memberikan pendidikan karakter yang sangat berpengaruh pada kepribadian seseorang.


B.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian Menurut Berbagai Teori


Jika dalam satu segi seseorang sama seperti kebanyakan atau bahkan semua orang maka kita bisa tahu apa yang diperbuat seseorang dalam sistuasi tertentu berdasarkan pengalaman kita sendiri. Tetapi kenyataannya, dalam berbagai maca segi setiap orang adalah unik, khas.[7] Manusia sebagai makhluk hidup merupakan makhluk yang lebih sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup yang lain. Selain manusia dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya, yang terikat oleh hukum-hukum alam, manusia juga dipengaruhi atau ditentukan oleh kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk hiudup, merupakan yang dinamika dalam pengertian bahwa manusia dapat megalami perubahan-perubahan. Tingkah laku manusia dapat berubah dari waktu ke waktu.[8]

Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kepribadian banyak terdapat macam-macam pendapat dari para ahli, sehingga pendapat-pendapat ini menimbulkan macam-macam teori. Sedikitnya ada sembilan teori yaitu psikoanalisis, neopsikoanalisis, interpersonal, sifat, perkembangan, humanistik, kognitif, behaviorisme, dan bidang terbatas. Dalam makalah akan diuraikan empat teori yang utama.[9]

1.      Teori Kepribadian Psikoanalisis

Teori ini dikembangkan oleh Freud. Freud mambangun model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain. Konflik dasar dari ketiga konflik kepribadian tersebut menciptakan energi psikis individu. Energi dasar ini menjadi kebutuhan instink individu yang menuntun pemuasan. Tiga sistem tersebut adalah id, ego, superego. Meskipun memiliki ciri-ciri, perinsip kerja, fungsi dan sifat yang berbeda, ketiga sistem ini merupakan satu tim yang saling bekerja sama dalam mempengaruhi perilaku manusia.[10]

Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan, mencari pemuasan segera implus biologis; ego mematuhi prinsip realita, menunda pemuasan sampai bisa dicapai dengan cara yang diterima masyarakat, dan superego (hati nurani; suara hati) memiliki standar moral pada individu. Jadi, jeas bahwa teori psikoloanalisis Freud, ego ini harus menghadapi konflik antara id (yang berisi naluri seksual dan agresif yang selalu meminta disalurkan) dan superego (yang berisi naluri larangan yang menghambat naluri-naluri itu). Selanjutnya, ego masih harus mempertimbangkan realitas di duania luar sebelum menampilkan perilaku tertentu.[11]

Dalam perkembangannya kepribadian melewati tahap psikoseksual (seperti oral, anal, falik) dan harus memecahkan konflik oedipal, saat anak kecil memandang orang tua berjenis kelamin sama sebagai saingan untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya berjenis kelamin lain. Namum bagi Erikson meski mengakui id, ego dan superego berpendapat yang terpenting bukanlah dorongan seks dan bukan pula konflik antara id dan superego. Bagi Erikson, manusia adalah makhluk rasional yang pikiran, perasaan, dan periakunya dikendalikan oleh ego. Jadi ego itu aktif bukan pasif yang dikemukakan Freud dan merupakan unsur utama dari kepribadian yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor sosial dari pada dorongan seksual.[12]

2.      Teori-teori sifat (Trait Theories)

Teori sifat ini juga dikenal teori-teori tipe (type theories) yang menekankan aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap. Tepatnya, teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau sifat-sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku relatif tetap dari situasi ke situasi.[13]

Allport menekankan bahwa keunikan seseorang hanya satu-satunya yang dimiliki orang tersebut. Namun, ada satu fokus yang kuat ketika koknitif internal dan proses motivasional seseorang mempengaruhi dan menyebabkan perilaku. Struktur internal ini terdiri atas berbagai refleks, dorongan, kebiasaan dan kemampuan, kepercayaan, sikap, nilai, intensi, dan sifat.[14]

Bagi Allport, sifat adalah sesuatu yang sesungguhnya eksis, namun tidak terlihat. Itu terletak dalam bagian tertentu dalam sistem saraf. Meskipun tidak terlihat kita dapat merasakan kehadirannya dengan mengamati konsestensi dari perilaku seseorang. Allport membedakan sifat umum (general trait) dan kecenderungan pribadi (persoal disposition). Dia juga membagi sejumlah perbedaan di antara berbagai jenis sifat, yaitu:[15]

a.       Sifat-sifat kardinal (cardinal traits), sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang meresap dan dominan dalam kehidupan seseorang.

b.      Sifat-sifat sentral (central trait), sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang kurang mengontrol tetapi tidak kalah penting.

c.       Sifat-sifat sekunder (secunder traits), sifat-sifat ini merupakan karakteristik periferal dalam individu.

Sheldon mengumpulkan sifat menjadi tiga:[16]

1)      Viscerotonia. Individu yang memiliki nilai vicerotonia yang tinggi, memiliki sifat-sifat, antara lain suka makan enak, pengejar kenikmatan, tenang, toleran, lamban, santai, pandai bergaul.

2)      Somatonia. Individu dengan sifat somatonia yang tinggi memiliki sifat-sifat seperti suka berpetualang dan berani mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan aktifitas fisik yang menantang, agresif, kurang peka dengan perasaan orang lain, cenderung menguasai dan membuat gaduh.

3)      Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai cerebretonia dikatakan bersifat tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai keramaian dan takut kepada orang lain, serta memiliki kesadaran diri yang tinggi, bila sedang dirundung masalah, ia memiliki reaksi yang cepat dan susah tidur.

3.      Teori Kepribadian Behaviorisme

Dalam pandangannya, penyelidikan tentang kepribadian melibatkan pengamatan yang sistematis dan sejarah belajar yang khas, serta latar belakang genetis yang unik dari individu. Menurut Skines, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu point yang faktor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama-sama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. Studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tigkah laku organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.[17]

Skiner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Teknik tersebut adalah:[18]

a.       Pengekangan fisik (physical restraints)

Misalya beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan kesalahan orang lain. Ada yang mengunakan bentuk lain dengan berjalan menjauh.

b.      Bantuan fisik (physical aids)

Msalnya pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengantuk saat perjalanan jauh

c.       Mengubah kondisi stimulus (changing the stimulus conditions)

Misalnya kita menggunakan kaca cermin untuk berlatih menguasai tarian yang sulit

d.      Manipulasi kondisi emosional (manipulating emotical condition)

Misalnya beberapa orang menggunakan teknik meditasi untuk menghilangkan stress

e.       Melakukan respon-respon lain(performing alternative responses)

Misalnya untuk menahan diri agar tidak menyerang orang yang sangat tidak kita sukai dengan tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.

f.        Menguatkan diri secara positif (pisitive self-reinforcement)

Misalnya seorang pelajar menghadia diri sendiri karena kerja keras dan dapat menyelesaikan ujian dengan baik, dengan menonton film bagus.

g.       Menghukum diri sendiri (self punishment)

Misalnya karena gagal ujian dengan baik dia menghukum diri sendiri dengan cara menyendiri dan kembali belajar dengan giat.

4.      Teori Psikologi Kognitif

Awal dari teori ini adalah ikut teori Gestalt. Menurut pendapat teori ini bahwa dalam memersepsi lingkungannya, manusia tidak sekadar mengandalkan diri pada apa yang diterima dari pengindraannya, tetapi masukan dari pengindraan itu diatur, saling dihubungkan dan diorganisasikan untuk diberi makna, dan selanjutnya dijadikan awal dari suatu perilaku. Kurt Koffka membuktikan sipanse dapat mengambil pisang yang terletak di luar kandangnya dengan menyambungkan dua pipa walaupun dia belum pernah mendapatkan pengalaman tentang itu.[19]

Pandangan teori koknitif menyatakan bahwa organisasi kepribadian manusia tudak lain adalah elemen-elemen kesadaran yang satu dengan lain saling terkait dalam lapangan kesadaran (koknisi). Dalam teori ini, unsur psikis dan fisik tidak dipisahkan lagi, karena keduanya termasuk dalam koknisi manusia. Bahkan, degan teori ini dimungkinkan juga faktor-faktor di luar diri dimasukkan (diwakilkan) dalam lapangan psikologis atau lapangan kesadaran seseorang.[20]


PENUTUP


A.     Kesimpulan

1.      Formulasi-formulasi menentukan tingkah laku yang diperkenalkan memberikan pengertian bahwa tingkah laku dalam satu sisi dipengaruhi oleh organisme dan stimulus atau organisme dan antiseden. Namun hal yang lebih baik adalah tingkah laku dipengaruhi oleh organisme dan lingkungan. Ketiganya saling berpengaruh dan memberikan timbal balik satu dengan yang lain.

2.      Dari berbagai teori dapat ditarik kesimpulan bahwa kepribadian dipengaruhi dari dalam dan dari luar. Faktor dari dalam yaitu Id, ego, superego diperkenalkan oleh teori kepribadian pesikoanalisis atau dari sifat oleh teori sifat dan faktor dari luar atau lingkungan dipengaruhi oleh pengamatan yang sistematis dan sejarah belajar dari teori behaviorisme begitu juga teori psikologi kognitif menjelaskan tidak hanya mengamati tetapi menyimpan hasil pengamatan tersebut.


B.     Saran-saran

1.      Terkadang kita merasa aneh dengan tingkah orang yang kita anggap diluar kebiasaan padahal itu dipengaruhi dari berbagai sosial yang muncul.

2.      Teori yang diperkenalkan seharusnya kita telaah lebih dalam lagi untuk kemanfaatan di kehidupan kita.


Daftar Pustaka


Alex Sobur, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2003




Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, yogyakarta: Andi Offset, 1986





[1] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (yogyakarta: Andi Offset, 1986), 10
[2] AndaiYaniUBB, http://kumpulanistilah.blogspot.com/2011/01/faktor-faktor-pembentuk-kepribadian.html
[3] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), 304
[4] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, 10
[5] Ibid, 11
[6] Ibid, 11
[7] Alex Sobur, Psikologi Umum, 304
[8] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, 42
[9] Alex Sobur, Psikologi Umum, 305
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Ibid, 306
[13] Ibid, 307
[14] Ibid
[15] Ibid, 308
[16] Ibid, 309
[17] Ibid, 309
[18] Ibid, 310
[19] Ibid, 311
[20] Ibid, 312

No comments: